KURIKULUM

Sebagaimana Visinya, Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) memiliki ciri khas yaitu studi PAI berwawasan Interdisipliner. Penyematan Interdisipliner ini bukan untuk sekedar agar tampil beda dan gagah semata namun lebih dari itu demi membekali wisudawan nya agar menjadi pribadi yang unggul, utuh dan berakhlakul karimah.

Guna menunjang kajian interdisipliner tersebut, Prodi PAI telah mengirimkan 5 dosen tetapnya untuk menempuh program doctor Pendidikan Islam Berbasis Studi Interdisipliner di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Asumsinya pada tahun 2019 kelima dosen tersebut telah menyelesaikan studi doctor dan mengabdikan ilmunya tersebut di Prodi PAI Berwawasan Interdisipliner IKHAC.

Dalam proses akademik, mahasiswa akan mendapatkan mata kuliah keinterdisiplineran  seperti diantaranya: PAI dan Sains, PAI dan Ekonomi, PAI dan Politik dan lain sebagainya. Adapun kajian interdisipliner dalam Pendidikan Agama Islam modern ini telah menjadi keharusan, setidaknya ada beberapa alasan fardu ‘ain dalam PAI berwawasan interdisipliner.

Pertama, guru-guru agama kita selama ini dipandang hanya mampu mengajarkan agama. Padahal agama Islam apabila dikaji dengan menggunakan disiplin ilmu lain maka hasilnya akan jauh lebih menarik minat belajar peserta didik. Semisal ketika menjelaskan materi hari kiamat maka kebanyakan guru PAI hanya menyampaikan dalil-dalil Al-Qur’an dan paling luas pembahasannya kemudian merefleksikan ayat tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Alangkah sangat menariknya apabila kemudian sang guru kemudian selain menggunakan ayat-ayat tersebut berikut contoh keseharian pada lingkungan sekitar juga disampaikan fenomena alam yang didukung oleh pengalaman ilmu sains yang ia miliki. Atau contoh lain, seperti materi konsep kepemilikan di tingkat SMA. Jelas materi ini berhubungan erat dengan teori-teori ekonomi. Pengalaman akademik guru akan sangat mempengaruhi suasana belajar peserta didik selain menambah wawasan yang luas bagi sikap dan tingkah laku guru PAI itu sendiri.

Kedua, Sadar maupun tidak, kurikulum 2013 yang diberlakukan dalam pembelajaran di sekolah maupun madrasah menggunakan pendekatan scientific learning. Berikut adalah langkah-langkah pembelajarannya:

  • Mengamati;
  • Menanya;
  • Mengumpulkan informasi/eksperimen;
  • Mengasosiasikan/mengolah informasi; dan
  • Mengkomunikasikan.

Padahal guru-guru PAI di sekolah dan madrasah di Indonesia ini rata-rata lulusan S1 atau bisa jadi lulusan S2 namun pertanyaannya, apakah para sarjana dan magister tersebut telah mendapat bekal yang cukup untuk mengaplikasikan pendekatan saintifik dalam proses belajar mengajar di lembaga-lembaga pendidikan? Dan apakah hanya menggunakan pendekatan saintifik yang bisa digunakan dalam pembelajaran? Ketahuilah bahwa tidak ada pendekatan yang benar-benar ideal dalam sebuah pembelajaran. Hal itu dikarenakan kebutuhan di lapangan terkadang berbeda dengan konsep teori yang telah dipelajari di bangku kuliah maupun dalam buku. Sehingga, perlu berbagai pendekatan bahkan strategi, metode, teknik, dan lain sebagainya, dengan demikian interdisipliner dalam kajian PAI mutlak diperlukan sedari dini yaitu mulai dari studi S1, karena pada umumnya di tangan sarjanalah pendidikan dasar, menengah dan atas di sekolah serta madrasah akan berhasil dan kemudian siap menuju pendidikan tinggi kelak di Perguruan Tinggi.

Adapun salah satu sumber belajar para mahasiswa adalah tulisan dosen-dosen internal maupun luar IKHAC dalam jurnal ilmiah milik prodi PAI IKHAC yang mana jurnal tersebut menerima tulisan berupa research interdisipliner.

Selain itu telah tersedia pula buku khusus yang ditulis oleh dosen PAI IKHAC yang berjudul PAI Interdisipliner “Layanan Khusus CIBI, Kenakalan Remaja, Integrasi Imtaq Dan IPTEK, Pendidikan Anti Kekerasan, Dan Kurikulum Berbasis Karakter” yang diterbitkan oleh DeePublish, serta buku PAI Multidisipliner “Telaah, Teori Dan Praktik Pengembangan PAI Di Sekolah Dan Perguruan Tinggi” terbitan LKiS. Buku-buku tersebut tersedia di perpus S1 IKHAC.

PROSPEK LULUSAN S1 PAI BERWAWSAN INTERDISIPLINER IKHAC

Prospek lulusan program studi pendidikan agama Islam Berwawasan Interdisipliner diharapkan, sebagai berikut:

  1. Sarjana pendidikan (Pendidik/Praktisi Pendidikan)

Pendidik Agama Islam SMP/SMA (yang sederajat), Madrasah diniyah (sederajat) serta memenuhi kompetensi, kepribadian, profesional, pedagogik dan sosial

  1. Sarjana pendidikan (Asisten Peneliti Pendidikan)

Asisten dalam kegiatan penelitian baik tingkat dasar maupun terapan dalam bidang pendidikan agama Islam

  1. Sarjana pendidikan (Pengembang Bahan Ajar)

Pengembang bahan ajar sebab menurut Prof. Dr. Muhaimin (Alm) bahan ajar merupakan komponen terpenting yang sesungguhnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam

  1. Sarjan pendidik (Edupreneur)

Pendidik yang utuh dan unggul dalam Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Ilmu Akuntansi, IT dan Aswaja serta berakhlakul karimah.

Setelah lulus dari S1 Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah IKHAC telah membuka S2 PAI sehingga para mahasiswa dapat langsung melanjutkan studinya di almamater yang sama guna menggapai cita-cita menjadi Magister Pendidikan Agama Islam. Serta dengan izin Allah Swt InsyaAllah tahun tahun 2019 akan diupayakan membuka S3 program Doktor PAI sebagai studi akhir guna menjadi Ulama, Pemimpin, Konglomerat dan Profesional yang unggul, utuh, dan berakhlak karimah dalam bidang Pendidikan Agama Islam.