Ketika Disakiti, Kita Harus Bagaimana?

APAKAH KITA HARUS MEMBALAS DENDAM KETIKA DI SAKITI?

Manusia adalah Makhluk Sosial

Kita dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak bisa menghindari interaksi dengan orang lain. Manusia adalah mahluk sosial dimana untuk memenuhi kebutuhannya manusia membutuhkan orang lain. Abraham Maslow dalam teori humanistiknya menjelaskan bahwa kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kepemilikan dan cinta, dihargai, dan kebutuhan aktualisasi diri. Toeri kebutuhan tersebut menunjukkan bahwasannya manusia sangat membutuhkan kehadiran manusia lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Manusia Tempatnya Salah

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendirian atau dengan kata lain manusia membutuhkan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan. Tetapi tidak hanya disitu saja, karena terdapat sifat manusia berikutnya yakni tempatnya salah dan dosa. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

“Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baiknya yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya.” (HR. Tirmidzi. 2499)

Hadits tersebut menjadi penguat dari pepatah Arab bahwasannya manusia adalah tempatnya salah dan lupa, dan semua manusia pasti pernah berbuat salah. Sayangnya kesalahan tidak berlalu begitu saja. Kesalahan pasti menimbulkan kekecewaan di hati orang yang dikenai kesalahan tersebut sehingga muncullah rasa sakit di hati.

Dalam berinteraksi dengan sesama tersebut sering kali kita mendapati suatu timbal balik yang tidak sesuai dengan harapan kita. Misalnya ketika kita membuat suatu kerja sama dengan teman kita dan ternyata teman kita tidak memenuhi janjinya, hal tersebut tentu membuat kita sakit hati. Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi satu kali atau dua kali saja dalam keseharian kita tetapi terjadi bahkan hingga belasan kali dalam sehari dan tanpa kita sadari kita menyimpan dendam kepada orang lain. Lantas apakah menyimpan dendam tersebut dapat dibenarkan walaupun kita dalam posisi berhak mendendam (kita disakiti)?

Keburukan Menyimpan Dendam

Sejarah Arab mencatat bahwasannya sebelum Islam datang melalui Nabi Muhammad Saw., orang-orang Mekah hampir selalu berada dalam keadaan perang. Peperangan menjadi solusi ketika terjadi perpecahan antar kabilah dan kabila yang kuatlah yang paling makmur kehidupannya. Terciptalah lingkaran setan dengan berdalih membalaskan kejahatan yang dilakukan oleh kabilah lain. Hal ini juga yang menjadi sebab mengapa daerah Mekah tidak terlalu diminati oleh kerajaan-kerajaan besar karena tandus dan sering terjadi peperangan. Dendam menciptakan peperangan yang tiada hentinya.

Peristiwa perang dunia adalah suatu peristiwa besar dalam kehidupan manusia. Perang dunia pertama memporak-porandakan seluruh dunia. Berawal dari pengeboman yang dilakukan oleh Jerman dengan pesawat Zeppelin-nya kepada Inggris pada tahun 1915, berlanjut hingga empat tahun berikutnya dan tidak memberikan apapun kecuali kehancuran. Tidak berhenti di situ saja, karena pada tahun 1939 Jerman kembali memicu peperangan dengan menyerang Danzig. Jepang juga memicu peperangan dengan pengeboman Pearl Harbour, pangkalan armada laut Amerika Serikat pada 1941. Perang dunia II terjadi karena persaingan kekuatan militer negara-negara maju. Dipicu oleh beberapa peristiwa dan dilanjutkan dengan aksi pembalasan, berakhir dengan kehancuran.

Keutamaan Memaafkan

Membalas dendam adalah suatu tindakan yang tidak membawa suatu kebaikan. Sejarah menunjukkan bahwasannya pembalasan dendam ketika disakiti hanya akan menimbulkan peperangan besar yang tidak ada habis-habisnya. Karena itulah memafkan lebih baik daripada membalas dendam. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 9 yang artinya:

 

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”

 Rasulullah Mendoakan Umar

Memaafkan adalah jalan keluar terbaik ketika kita sedang berada dalam keadaan disakiti sembari mendoakan kesadaran bagi orang yang menyakiti kita. Dengan memaafkan tidak akan ada lingkaran setan yang terbentuk yakni balas dendam melahirkan balas dendam berikutnya.

Rasulullah memberikan teladan ketika dirinya menghadapi perilaku Umar Bin Khattab yang sangat memusuhi Islam. Bahkan diriwayatkan bahwasannya Umar bin Khattab berniat membunuh Nabi Muhammad. Tetapi bukannya membalas dengan keras Rasulullah malah berdo’a kepada Allah agar Umar bin Khattab sadar dan turut membebsarkkan Islam:

 

“Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan salah satu dari dua Umar. Umar bin Khattab dan Amru bin Hisyam.” (HR. Tirmidzi)

 

Doa tersebut diijabah oleh Allah dan Umar bin Khattab masuk Islam setelah tanpa sengaja mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh adiknya sendiri. Dari penentang terkeras menjadi pendukung yang paling gigih dalam dakwah Islam.

Rasulullah dan Seorang Tunanetra Yahudi

Semasa Nabi Muhammad hidup ada seorang wanita setengah tua Yahudi yang selalu berpidato menjelekkan Nabi Muhammad sekali dalam seminggu. Bukannya beni Rasulullah alah Iba dan menyuapi seorang Yahudi yang tunanetra sampai tiga kali saban Minggu.

Suatu hari, setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menggantikan dan meniru Nabi Muhammad menggantikan menyuapi orang tersebut. Ia meniru persis seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya. Wanita Yahudi tersebut merasakan ada yang berbeda dari suapan yang ia dapatan, lalu bertanya

“Siapa kamu?, kamu bukan orang yang kemarin?” Tanya wanita Yahudi

Abu Bakar mengaku bahwa dirinya yang biasanya menyuapi lalu kembali melanjutkan menyuapi wanita tersebut.

“Bukan, bukan. Yang kemarin enak, lembut. Tapi sekarang kasar. Siapa kamu? Kamu bukan yang kemarin”. Kata wanita tersebut.

Abu Bakar seketika menangis kemudian perempuan tadi bertanya kenapa ia menangis.

“Kenapa kamu menangis ketika aku tanya siapa kamu?”

“Betul, saya bukanlah yang kemarin. Yang kemarin adalah Muhammad. Muhammad nabi saya.” Jawa Abu Bakar.

Mendengar hal tersebut mengetahui bahwa yang menyuapinya sebelumnya dengan begitu lembutnya adalah Nabi Muhammad, orang yang selalu dijelekkan-nya, orang Yahudi tersebut menjerit keras sekali tanda ia menyesal dan kemudian bersyahadat.

Memaafkan adalah langah yang ditempuh oleh Rasulullah ketika ia mendapatkan perlakuan menyakitkan dari orang lain. Dan setelah berbuat baik kepada orang yang menyakiti tersebut orang-orang tersebut sadar dan berhenti melanjutkan perilaku tidak baiknya, bahkan turut berada dalam barisan Rasulullah di dalam Islam. Perilaku Rasulullah patut kita teladani dan kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Written By : Hendrik Sukma Trismayanto / Pendidikan Agama Islam 2018

 

 

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.